Kampanye militer Kediri (1678)

Kampanye militer Kediri (juga, bagi Belanda, Ekspedisi Hurdt atau Ekspedisi Kediri[3]) berlangsung dari bulan September hingga November 1678 semasa Pemberontakan Trunajaya.[4] Pasukan Kesultanan Mataram yang dipimpin Amangkurat II dan Perusahaan Hindia Timur Belanda yang dipimpin oleh Anthonio Hurdt berpawai menuju pedalaman Jawa bagian timur melawan pasukan Trunajaya.[5] Kampanye militer ini mencapai puncaknya dengan direbutnya ibu kota dan benteng Trunajaya di Kediri pada tanggal 25 November, diikuti dengan penjarahannya oleh pemenang Belanda dan Jawa.[4] Trunajaya sendiri melarikan diri dari Kediri dan melanjutkan pemberontakannya—yang kini sangat lemah—sampai penangkapannya pada akhir tahun 1679.[5]

Selama pawai menuju Kediri, tentara Mataram-VOC dengan sengaja melakukan pemecahan dan barisan-barisannya mengambil rute tidak langsung yang berbeda menuju Kediri, seperti yang disarankan oleh Amangkurat. Hal ini dimaksudkan agar tentara bertemu dengan lebih banyak orang dan memenangkan kesetiaan dari mereka yang bimbang. Tentara tersebut berpawai melalui daerah yang sebelumnya belum dieksplorasi oleh Belanda, dan laporan Belanda dicatat dalam sebuah jurnal oleh sekretaris Hurdt, Johan Jurgen Briel. Sejarah Jawa (babad) juga mencatat mengenai kampanye militer ini.

Latar belakang

Dalam Pertempuran Surabaya yang berlangsung pada Mei 1677, Perusahaan Hindia Timur Belanda (dikenal dengan akronim Belanda-nya, "VOC") mengusir Trunajaya dari keratonnya di Surabaya.[6] Dia kemudian mundur ke pedalaman untuk mendirikan ibu kota baru di Kediri, ibu kota Kerajaan Kediri kuno.[6][7] Namun, satu bulan kemudian pasukan Trunajaya menyerbu keraton Mataram di Plered. Ibu kota dijarah, dan Raja Amangkurat I mangkat semasa penarikan mundur pasukan, menyebabkan pemerintahan Mataram berantakan.[8] Dia digantikan oleh anaknya, Amangkurat II, yang melarikan diri bersamanya.[9] Kurangnya tentara, harta kekayaan, dan pemerintahan yang berjalan,[10] Amangkurat II kemudian pergi ke Jepara, markas besar armada VOC di bawah Laksamana Cornelis Speelman, dan pada bulan Oktober menandatangani sebuah perjanjian yang memperbarui aliansi mereka.[11] Sebagai imbalan karena membantu Mataram melawan musuh-musuhnya, raja berjanji untuk membayar VOC 310.000 real Spanyol dan sekitar 5.000 metrik ton beras (ini mencakup semua kampanye militer VOC sebelumnya untuk kepentingan Mataram sampai dengan Oktober).[12] Dalam perjanjian lebih lanjut, dia setuju untuk menyerahkan kabupaten di sebelah timur Batavia, serta Semarang, Salatiga dan kabupaten sekitarnya, dan memberikan monopoli tekstil, opium, dan gula kepada kompeni.[12]

Dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut, Speelman dan Amangkurat sangat ingin untuk segera bergerak melawan pemberontak, namun hal ini dicegah oleh kebijakan hati-hati Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuycker, perselisihan internal di antara keraton Mataram, dan penentangan beberapa anggota dewan keraton terhadap keterlibatan Belanda.[12] Pada bulan November dan Desember, hanya ada operasi terbatas oleh pasukan Mataram dengan dukungan VOC di pantai utara, yang mencatat keberhasilan parsial.[13] Namun, pada bulan Januari 1678, Maetsuycker meninggal dan digantikan oleh Rijklof van Goens dan pada pertengahan tahun 1678 beberapa penantang Raja atau aliansi VOC-Mataram meninggal, membuka jalan bagi kampanye militer yang lebih agresif.[14] Speelman sendiri menjadi Direktur Jenderal menggantikan van Goens.[14] Dia berangkat ke Batavia dan VOC menunjuk Anthonio Hurdt, mantan gubernur Ambon untuk menggantikannya sebagai komandan, memberinya gelar "Inspektur, Laksamana, Komandan Kampanye Militer dan Perang."[15] VOC juga membawa pasukan Arung Palakka, sekutu Bugis-nya dalam Perang Makassar (1666–1669).[15]

Pasukan-pasukan yang terlibat

Saat kampanye militer mulai, pasukan Mataram berjumlah 3.000 tentara dan 1.000 kuli pengangkut barang.[16] Saat pawai berlangsung, pasukan baru direkrut dalam perjalanan dan beberapa ningrat mengumumkan kesetiaan mereka kepada raja, memperbesar tentara kerajaan menjadi 13.000 orang.[16] Namun, desersi dan panen yang segera tiba mengurangi jumlah tentara ini lagi, dan selama penyerangan terhadap Kediri, pasukan Mataram hanya memiliki sekitar 1.000 orang bersenjata.[2][17] Tiga ribu tentara pertama dipersenjatai dengan tombak, namun beberapa yang direkrut terakhir memiliki senjata api.[16]

Sebelum kampanye militer mulai, VOC memiliki 900 tentara di pantai utara Jawa, dikerahkan sebagai garnisun di berbagai kota.[18] Pasukan ekspedisi tambahan sebanyak 1.400 orang tiba pada awal kampanye militer.[18] Saat tentara berpawai, pasukan itu disertai dengan garnisun di kota-kota yang dilewati mereka.[16] Orang Indonesia dari berbagai etnis membentuk mayoritas pasukan VOC; tentara, marinir, dan perwira Eropa membentuk kelompok minoritas.[19] Desersi dan penyakit menyusutkan jumlah pasukan.[1] Pada saat penyerangan terhadap Kediri, VOC memiliki 1.750 personel, 659 di antaranya adalah orang Eropa.[2] Banyak dari mereka menderita disentri [2] dan hanya sekitar 1.200 yang bergabung dalam penyerangan tersebut.[20] Pasukan VOC-Mataram memiliki artileri, namun perbekalan yang terbatas berarti mereka berhemat hanya untuk serangan terakhir.[2]

Jumlah pasukan Trunajaya tidak jelas.[2] Laporan VOC-Mataram menempatkan jumlahnya pada 1.000, namun kemudian paman Trunajaya, Pangeran Sampang mengatakan bahwa pengikut Trunajaya berjumlah 14.500 sebelum serangan terhadap Kediri.[2] Pasukan ini mencakup "ratusan"[21] kavaleri berzirah.[22] Trunajaya juga membangun benteng di sepanjang Brantas (Kediri berada di tepi timur sungai ini), dan artilerinya pada umumnya memiliki persenjataan yang lebih baik daripada para loyalis.[2]

Kampanye militer

Perencanaan

Pergerakan pasukan Mataram–VOC menuju Kediri. Mataram dan VOC memilih untuk tidak menyerang langsung dari Surabaya—jalur terpendek menuju Kediri—namun memecah diri menjadi beberapa barisan dan memilih rute panjang, agar pasukan ini bisa dilihat lebih banyak orang dan meyakinkan kelompok yang bimbang untuk bergabung ke pihak raja dalam peperangan ini.[23]

Hurdt ingin menyerang benteng Kediri Trunajaya dari Surabaya di pesisir Jawa Timur, yang akan menjadi rute terpendek.[24] Namun, Amangkurat II mengusulkan agar pasukan dipecah menjadi beberapa lajur dan berpawai melalui rute darat yang panjang.[23] Dia ingin pasukan VOC-Mataram perlahan menyusuri lebih banyak wilayah, untuk mempengaruhi kelompok masyarakat yang merasa ragu untuk berpihak.[23] Argumen ini meyakinkan Hurdt, dan mereka memutuskan untuk memecah tentara menjadi tiga lajur berbeda yang melakukan perjalanan melalui rute darat yang berbeda dari pesisir Jawa Tengah menuju Kediri di pedalaman Jawa Timur.[19] Sebagai tambahan, seorang pedagang VOC Willem Bastinck pergi ke Surabaya untuk mencari Karaeng Galesong—mantan sekutu Trunajaya yang kesetiaannya goyah dan Mataram dan VOC berharap memperoleh bantuannya—dan para pengikutnya.[16]

Berpawai menuju Kediri

Pasukan VOC dan Mataram berpawai dari pesisir Jawa tengah dalam tiga lajur. Satu lajur yang dipimpin oleh Kapten François Tack meninggalkan Jepara pada tanggal 21 Agustus menuju Semarang di mana dia mulai mengadakan pawainya melalui darat.[16] Lajur lainnya yang dipimpin oleh Kapten Abraham Daniel van Renesse dan Frederik Hendrik Mulder meninggalkan Rembang pada tanggal 26 Agustus.[16] Sementara itu, lajur utama dimobilisasi di Jepara, dipimpin oleh Hurdt dan Amangkurat. Pasukan ini mengirim detasemen lanjutan ke arah selatan pada tanggal 27 Agustus dan 2 September, sementara Hurdt dan Amangkurat berangkat pada tanggal 5 September.[16]

Lajur Tack diperkuat oleh garnisun Semarang dan berpawai ke arah selatan menuju distrik Pajang, di mana ia melawan para pengikut sekutu Trunajaya, Raden Kajoran.[18] Lajur Hurst dan Amangkurat berkumpul kembali di Godong di Sungai Serang dan tinggal di sana selama enam hari.[16] Artileri dan perbekalan mereka dibawa ke sana melalui sungai, namun kini harus bergabung dengan pawai ke arah selatan via darat melewati wilayah musuh. Kemudian lajur ini bergabung dengan lajur Tack di lembah Sungai Solo (sungai itu kemudian disebut Sungai Semanggi).[18] Sementara itu, lajur van Renesse dan Mulder melewati Pati, bergabung dengan pasukan VOC di sana, dan berpawai melalui rute yang berbeda menuju Kediri.[2]

Sepanjang perjalanan berpawai, pasukan loyalis menghadapi masalah seperti desersi, kurangnya disiplin, sakit, kekurangan pangan, dan navigasi yang buruk.[16][19] Pawai tersebut mencakup beberapa penyeberangan sungai, yang menjadi sulit karena kurangnya jembatan, banjirnya sungai akibat hujan, serta gerobak dan meriam yang macet.[16][19] Merupakan hal yang sangat sulit bagi pasukan VOC, yang tidak terbiasa dengan medan pedalaman Jawa. Hurdt ingin tinggal di lembah Sungai Solo dan melanjutkan kampanye di tahun depan. Amangkurat lebih memilih untuk terus berpawai, dan pendapatnya menang.[19] Ketika pasukan loyalis berpawai ke arah timur, pasukan pemberontak menghindari pertempuran besar namun terlibat dalam bentrokan dan terus membahayakan pasukan para loyalis yang mencari makanan di pedesaan dan yang ketinggalan barisan.[16] Para loyalis yang menjelajahi pedesaan untuk mengumpulkan makanan, menimbulkan kepanikan di antara penduduknya.[19]

Selama perjalanan berpawai, Amangkurat I mencoba untuk mendapatkan kesetiaan para ningrat di wilayah yang dilewati.[19] Banyak yang sebelumnya setia pada Kajoran, yang berpihak pada Trunajaya, atau ragu-ragu di antara kedua belah pihak.[19] Kehadiran raja dan pasukannya, serta barang rampasan arahan yang mungkin diperoleh dalam kampanye tersebut, memotivasi mereka untuk menyatakan kesetiaan kepada Amangkurat dan bergabung dengan pasukan.[19][16] Pada tempat tertentu, pasukan Jawa di lajur mencapai 13.000.[16]

Menyeberangi Brantas

Tentara Hurdt-Amangkurat tiba di Singkal, di tepi barat Sungai Brantas utara Kediri, pada tanggal 13 Oktober. Menemukan cara untuk menyeberangi sungai terbukti merupakan tantangan besar bagi para loyalis. Sungai Brantas banjir karena hujan muson, dan tentara tidak memiliki perahu yang diperlukan untuk menyeberanginya. Hujan, desersi, dan kekurangan perbekalan terus mengganggu mereka. Uang, makanan, dan wanita yang tersedia di kubu Trunajaya menggoda banyak orang Indonesia dan Eropa bersama-sama untuk membelot.[25] Desersi di kalangan tentara Jawa juga dipercepat karena panen.[17] Pasukan Amangkurat anjlok menjadi sekitar 1.000, sementara VOC tersisa 1.750 tentara, 659 di antara mereka orang Eropa.[17][2]

Sementara itu, pasukan Trunajaya mengintimidasi tentara loyalis. Mereka telah membentengi pos di sepanjang sungai, terutama di tepi timur.[2] Pos-pos itu dilengkapi dengan meriam dengan berbagai ukuran hingga dua belas pon.[2] Artileri Trunajaya terus menggempur para loyalis, bahkan mencapai pemondokan Hurdt dan Amangkurat sendiri, serta rumah sakit darurat tentara.[2] Tentara loyalis juga memiliki meriam, namun mereka tidak menembak balik; amunisi mereka yang terbatas berarti mereka harus menyimpannya hanya untuk serangan terakhir terhadap Kediri.[2] Selain itu, kavaleri Trunajaya juga terlibat dalam bentrokan dengan para loyalis, menyebabkan korban jiwa dan merusak moral mereka.[2] Pada tanggal 21 Oktober, serangan malam yang dipimpin oleh Raden Suradipa membakar tempat tinggal pasukan Melayu VOC.[2] Namun, serangan tersebut dipukul mundur dan Suradipa—saudara laki-laki Trunajaya—terluka parah.[26] Pada malam tanggal 2-3 November, para penskirmis Trunajaya mengintimidasi para penjaga VOC dengan musik gamelan dan suara mengejek.[27]

Pada tanggal 3 November, Hurdt dan Amangkurat bergabung dengan sebuah lajur yang dipimpin oleh Willem Bastinck dari Surabaya, disertai oleh 800 gerobak sapi perbekalan.[27][19] Konvoi ini dikirim dengan bantuan dari Adipati Tumapel, sekutu Jawa VOC, dan Karaeng Galesong, mantan sekutu Trunajaya yang kesetiaannya meragukan.[19] Pada tanggal 6 November, pasukan pemberontak menyerang gerobak-gerobak ini, membakar sekitar sepuluh dari mereka dan membunuh beberapa orang.[27] VOC kemudian memindahkan perbekalan ini ke dalam benteng palisade yang dibangun sebagai akibat buruk dari serangan Suradipa.[27]

Dengan datangnya perbekalan segar, Hurdt dan Amangkurat bersemangat menemukan cara untuk menyeberangi sungai.[27] Pasukan yang dipimpin oleh komandan Belanda Ishak de Saint Martin mengusir pasukan Trunajaya dari Manukan, di tepi barat lebih jauh ke selatan dari Singkal.[27] Mereka kemudian mencoba menyeberangi sungai di sana, namun ternyata tidak berhasil karena tembakan berat dan kedalaman air.[27] Mereka melakukan percobaan lain pada malam tanggal 6-7 November, namun kapal mereka tenggelam dan gagal juga.[27] Hurdt merasa frustrasi karena tidak adanya kemajuan, dan mengulitmatum Amangkurat bahwa VOC akan menarik diri kecuali jika raja menyediakan ponton untuk penyeberangan dan korek api untuk matchlock (senapan kunci-korek) tentaranya.[27]

Sungai itu surut pada malam tanggal 16-17 November.[20] Tradisi Jawa (babad) menghubungkan hal ini dengan kekuatan supranatural Amangkurat, dan mengatakan bahwa hal ini terjadi saat Amangkurat secara pribadi naik menyeberangi sungai memimpin pasukannya.[20] Bagaimanapun, sungai tersebut surut, tentara menyeberang di Curing, tepat di sebelah selatan Singkal.[20] Mereka yang berkuda tidak membutuhkan kapal, sementara tentara infanteri menyeberang dengan kapal. [20] Sungai itu lebarnya sekitar 115 meter dalam penyeberangan.[20] Pasukan Trunajaya membombardir mereka dengan artileri saat mereka menyeberang, sebelum diusir, meninggalkan sebelas potongan meriam di belakangnya.[20]

Penaklukan Kediri

Karena jembatan berhasil didirikan di Curing, tentara loyalis berpawai ke selatan menuju Kediri. Pada saat ini pasukan VOC berjumlah 1.200 dan tentara Amangkurat sekitar 1.000 orang. Mereka dipecah menjadi lajur-lajur masing-masing di bawah komando Hurdt dan de Saint Martin. Amangkurat sendiri kembali ke Singkal yang relatif aman. Pasukan Trunajaya tidak berhasil menghentikan kemajuan ini. Pada tanggal 25 November tentara menyerang Kediri sendiri. Kota ini kelilingnya sekitar 8,5 kilometer (5,3 mi), dipertahankan oleh 43 baterai artileri dan tembok setinggi 6 meter dan tebal 2 meter. Lajur Hurdt memasuki kota dari timur, sementara de Saint Martin masuk dari barat laut. De Saint Martin tiba pertama di alun-alun kota Kediri, dekat kediaman Trunajaya. Para pembela menghadapi perlawanan sengit. Empat kompi VOC, di bawah komando Kapten Tack terlibat dalam pertempuran "halaman demi halaman" untuk menaklukkan kompleks kediaman Trunajaya di pusat kota. Pasukan VOC memanfaatkan granat tangan yang terbukti sangat berguna dalam pertempuran kota.

Pasukan loyalis menang. Trunjaya melarikan diri ke selatan menuju pedesaan, dan pihaknya menderita kerugian besar.[20] VOC menderita korban ringan dengan 7 orang tewas dan 27 lainnya luka-luka.[20] Di antara pasukan Mataram, dua ningrat senior tewas dalam pertempuran tersebut; yang pertama adalah Tumenggung Mangkuyuda, dan beberapa sumber tidak setuju dengan yang kedua, dengan nama bervariasi Tumenggung Melayu, Demang Mangunjaya, atau Tumenggung Mataram.[28] Tentara yang menang kemudian menjarah istana Trunajaya yang ditinggalkan.[20] Harta kekayaan Mataram, yang dibawa ke Kediri oleh para pemberontak setelah penjarahan mereka atas ibu kota Mataram pada tahun 1677, merupakan salah satu sasaran penjarahan.[20] Amangkurat dan VOC telah berharap untuk mendapatkan kembali harta kekayaan ini dan menggunakannya untuk membayar bantuan VOC dalam perang, namun malah dijarah oleh tentara seluruhnya.[20] VOC mendapati sepuluh orang Eropa yang membelot ke pihak Trunajaya, dan mengeksekusinya.[29] Para pemenang juga menemukan perempuan Mataram yang diculik, kuda, dan tanda kebesaran keraton keramat (pusaka).[20] Sebuah meriam khusus, bernama "Nyai Setomi" dan disebut mriyem berkat ("meriam yang diberkati") dan wasiyat Mataram ("pusaka Mataram") ditemukan di antara tanda kebesaran keraton yang diselamatkan.[30]

Mahkota emas

Pemenang juga menemukan mahkota emas di antara barang rampasan tersebut.[20] Mahkota tersebut dianggap sebagai mahkota dari zaman kekaisaran Majapahit abad ke-15, di mana ada laporan penggunaan mahkota emas.[20] Mahkota tersebut diserahkan kepada Kapten Tack (VOC), yang bersikeras meminta 1.000 rijksdaalder sebelum memberikannya kepada raja.[20] Tindakan ini nampaknya menyinggung perasaan raja dan mungkin telah menyebabkan kematiannya di keraton Mataram pada tahun 1686.[31] Pada tanggal 27 November, Hurdt mempersembahkan mahkota kepada raja, yang kemudian memakainya.[32] Dalam sebuah tindakan kesalahpahaman budaya, VOC melepaskan tembakan musket dan penghormatan meriam, membayangkan acara tersebut sebagai penobatan dalam pengertian Eropa.[32] Pada kenyataannya, mahkota tidak memiliki kepentingan seremonial dalam protokol keraton Jawa.[32][19] Episode ini menarik banyak perhatian di kalangan sejarawan kemudian.[32] Sejarawan Belanda H. J. de Graaf berpendapat bahwa raja kemudian akan menganggap acara ini sebagai simbol sikap merendahkan dari orang Eropa bahwa mereka penting bagi legitimasi raja.[32]

Evakuasi

Karena Trunajaya terusir dan penjarahan selesai, tentara loyalis meninggalkan Kediri menuju Surabaya, kota utama dan pelabuhan di Jawa Timur.[32] Benteng Kediri dirobohkan dan seorang gubernur dilantik untuk memerintah kota.[33] Sebuah konvoi sungai berangkat pada tanggal 15 Desember, yang termasuk Hurdt, Tack, van Renesse, 288 VOC yang sakit dan terluka, meriam lapangan dan amunisi mereka.[32] Sisanya, termasuk Amangkurat dan de Saint Martin berangkat melalui darat pada tanggal 18 Desember.[32] Arus deras dan musim hujan membuat perjalanan ini sulit.[32] Konvoi sungai tiba di Surabaya pada tanggal 17 Desember setelah kehilangan beberapa kapal dan orang.[32] Pawai melalui bahkan lebih sulit.[32] Banyak jalan yang banjir dan tidak dapat dilewati. Banyak yang meninggal karena kelelahan hebat, "lapar, lelah, dan menghabiskan waktu seperti binatang di sepanjang jalan dan bahkan di dalam air," menurut catatan harian.[32][33] Tentara mencapai Perning pada tanggal 24 Desember, hulu Surabaya, dan terputus oleh banjir.[32] Beberapa orang berhasil mencapai Surabaya dengan kapal, dan sisanya hanya sampai pada 5 Januari melalui darat.[32]

Amangkurat dan pengikutnya mendirikan keraton kerajaan di Surabaya.[33] Dia akrab dengan kota tersebut; dia merupakan keturunan dari bekas dinasti Surabaya melalui ibunya, dan dulunya adalah seorang wakil raja Jawa Timur selama masa pemerintahan ayahnya.[33] Selanjutnya, Hurdt dan pejabat VOC. lainnya berangkat ke Batavia.[33] Christiaan Poleman mengambil alih komando pasukan VOC di Jawa Timur.[33]

Kesudahan

Kemenangan Belanda-Mataram di Kediri melemahkan pemberontakan Trunajaya. Namun, perang belum berakhir. Trunajaya dan pengikutnya masih buron di dataran tinggi Malang sekitar Jawa timur; dia tidak ditangkap hingga Desember 1679. Sekutunya Raden Kajoran membangun pangkalan baru di Mlambang, Jawa Tengah dan terlibat dalam operasi sukses di sana hingga kematiannya pada September 1679.[34][35] Kakak Amangkurat, Pangeran Puger, masih menguasai keraton Mataram di Plered di mana dia mempertahankan klaim tandingan atas takhta hingga tahun 1681.[32] Amangkurat juga menghadapi kesulitan dalam membangun kekuasaannya di Cirebon dan Madura.[32]

Karena kampanye militer ini, VOC kini sepenuhnya terikat dengan Amangkurat.[36] Namun, raja tidak bisa membayar VOC seperti yang dijanjikan karena harta kekayaannya—yang dia harapkan bisa diselamatkan di Kediri—dijarah oleh VOC dan tentaranya sendiri.[32] VOC juga merasakan ketidakmampuan raja dan kurangnya kesetiaan di kalangan rakyatnya. Meskipun begitu, VOC terus bertempur di pihaknya sampai berakhirnya perang.[37]

Warisan

Johan Jurgen Briel, sekretaris dari komandan Belanda Hurdt, menulis sebuah jurnal sebanyak 240 halaman mengenai kamapnye militer ini.[38] Pada 1971, jurnal tersebut disunting oleh sejarawan H. J. de Graaf dan diterbitkan dalam nl [Linschoten-Vereeniging].[39] Sebelumnya, pada 1890 J. Hendrik van Balen dan Willem Steelink Jr. menerbitkan sebuah buku anak-anak De Kroon van Mataram ("Mahkota Mataram"), yang menggambarkan kampanye militer tersebut berdasarkan laporan Briel.[40] Buku Belanda tersebut menekankan peranan para tentara Eropa, dan menggambarkan orang Jawa memiliki arti minimal dalam kemenangan VOC.[40]

Kampanye militer ini juga muncul dalam sejarah Jawa (babad), mencakup Babad Kraton yang ditulis oleh Raden Tumenggung Jayengrat di Yogyakarta selama tahun 1777–1778.[41]

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ a b Ricklefs 1993, hlm. 50–51.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r Ricklefs 1993, hlm. 51.
  3. ^ Pigeaud 1976, hlm. 76.
  4. ^ a b Ricklefs 2008, hlm. 93.
  5. ^ a b Ricklefs 2008, hlm. 94.
  6. ^ a b Ricklefs 1993, hlm. 39.
  7. ^ Pigeaud 1976, hlm. 72.
  8. ^ Ricklefs 1993, hlm. 41.
  9. ^ Ricklefs 1993, hlm. 42.
  10. ^ Ricklefs 1993, hlm. 44.
  11. ^ Ricklefs 1993, hlm. 46–47.
  12. ^ a b c Ricklefs 1993, hlm. 47.
  13. ^ Ricklefs 1993, hlm. 47–48.
  14. ^ a b Ricklefs 1993, hlm. 48.
  15. ^ a b Ricklefs 1993, hlm. 48–49.
  16. ^ a b c d e f g h i j k l m n Ricklefs 1993, hlm. 50.
  17. ^ a b c Kemper 2014, hlm. 100.
  18. ^ a b c d Ricklefs 1993, hlm. 49.
  19. ^ a b c d e f g h i j k l Pigeaud 1976, hlm. 79.
  20. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Ricklefs 1993, hlm. 53.
  21. ^ Kemper 2014, hlm. 28.
  22. ^ Kemper 2014, hlm. 26.
  23. ^ a b c Pigeaud 1976, hlm. 78–79.
  24. ^ Pigeaud 1976, hlm. 78.
  25. ^ Kemper 2014, hlm. 111.
  26. ^ Ricklefs 1993, hlm. 51-52.
  27. ^ a b c d e f g h i Ricklefs 1993, hlm. 52.
  28. ^ Ricklefs 1993, p.53 and p. 277 note 52.
  29. ^ Ricklefs 1993, p. 54 and p. 278 note 57.
  30. ^ Ricklefs 1993, p.53 and p. 277 note 54.
  31. ^ Ricklefs 1993, hlm. 53-54.
  32. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Ricklefs 1993, hlm. 54.
  33. ^ a b c d e f Pigeaud 1976, hlm. 80.
  34. ^ Pigeaud 1976, hlm. 88.
  35. ^ Kemper 2014, hlm. 144.
  36. ^ Ricklefs 1993, hlm. 55.
  37. ^ Ricklefs 1993, hlm. 54-55.
  38. ^ Kemper 2014, hlm. 98.
  39. ^ Ricklefs 1985, hlm. 198.
  40. ^ a b Kemper 2014, hlm. 117.
  41. ^ Ricklefs 1993, p. 244, p. 276 notes 48, 50, 54.

Bibliografi