Boeah Rindoe

Buah Rindu
Sampul, cetakan kedua
Sampul, cetakan kedua
PengarangAmir Hamzah
NegaraHindia Belanda
BahasaMelayu
GenreKoleksi puisi
PenerbitPoedjangga Baroe
Tanggal rilisJuni 1941 (1941-06)
Jenis mediaCetak (sampul lunak)
Halaman46 (edisi kedua)

Boeah Rindoe (EYD: Buah Rindu) adalah koleksi puisi karya Amir Hamzah tahun 1941.

Latar belakang

Isi

Buah Rindu berisi 23 puisi berjudul dan 2 puisi tanpa judul, satu kuatrain pendek di awal buku, dan dedikasi tiga baris di akhir buku.[1] Dedikasi penutupnya bertuliskan "Kebawah peduka Indonesia-Raya / Kebawah debu Ibu-Ratu / Kebawah kaki Sendari-Dewi",[a][2] Achdiat Karta Mihardja, teman sekelas Amir, menulis bahwa kekasih Amir dari Jawa, Ilik Sundari, langsung dikenali semua teman Amir. ia menganggap Sundari sebagai inspirasinya sebagaiman "Laura bagi Petrarch, Mathilde bagi Jacques Perk".[3]

Puisi-puisi berjudulnya diurutkan sebagai berikut:

  1. "Cempaka..."
  2. "Cempaka Mulia"
  3. "Purnama Raya"
  4. "Buah Rindu" (empat bagian)
  5. "Kusangka"
  6. "Tinggallah"
  7. "Tuhanku Apatah Kekal?"
  8. "Senyum Hatiku, Senjum"
  9. "Teluk Jayakarta"
  10. "Hang Tuah"
  11. "Ragu"
  12. "Bonda" (dua bagian)
  13. "Dagang"
  14. "Batu Belah"
  15. "Mabuk..."
  16. "Sunyi"
  17. "Kamadewi"
  18. "Kenang-Kenangan"
  19. "Malam"
  20. "Berlagu Hatiku"
  21. "Harum Rambutmu"
  22. "Berdiri Aku"
  23. "Pada Senja"
  24. "Naik-Naik"

Dari semua puisi di Buah Rindu, 10 di antaranya sudah pernah diterbitkan. Sepuluh puisi tersebut mencakup karya-karya Amir yang pertama diterbitkan, "Mabuk..." dan "Sunyi", yang disertakan dalam majalah Timboel edisi Maret 1932, serta "Dagang", "Hang Tuah", "Harum Rambutmu", "Kenang-Kenangan", "Malam", "Berdiri Aku", "Berlagu Hatiku", dan "Naik-Naik". Sisanya belum pernah diterbitkan.[4]

Gaya

Tema

Tanggapan

Buah Rindu diterbitkan secara lengkap di Poedjangga Baroe edisi Juni 1941, majalah yang ikut didirikan Amir tahun 1933.[4] Koleksi puisi ini kemudian diterbitkan lagi dalam bentuk buku terpisah oleh Poestaka Rakjat di Jakarta.[5]

Johns menulis bahwa meski elemen-elemen individualitas sangat kentara di dalam koleksi ini, "tak satupun yang menunjukkan individualitas dan intensitas" tulisan-tulisan terakhir Amir.[6] Ia melihat ada dua puisi, "Tinggallah" dan "Senyum Hatiku, Senyum", yang terkesan lemah.[7] Walaupun memiliki sudut pandang positif terhadap karya-karya Amir, penyair Chairil Anwar tidak menyukai Buah Rindu dan menganggapnya terlalu klasik.[8]

Catatan penjelas

  1. ^ Teks asli: "Kebawah peduka Indonesia-Raya / Kebawah debu Ibu-Ratu / Kebawah kaki Sendari-Dewi"; dalam Ramayana versi Indonesia, Sendari (juga ditulis Sundari) adalah istri pertama Abimanyu.

Referensi

  1. ^ Hamzah 1953, hlm. 4–46.
  2. ^ Mihardja 1955, hlm. 120.
  3. ^ Mihardja 1955, hlm. 122.
  4. ^ a b Jassin 1962, hlm. 211–19.
  5. ^ Husny 1978, hlm. 83.
  6. ^ Johns 1979, hlm. 126.
  7. ^ Johns 1979, hlm. 127.
  8. ^ Teeuw 1980, hlm. 136.

Kutipan

  • "Amir Hamzah". Encyclopedia of Jakarta (dalam bahasa Indonesia). Jakarta City Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 December 2011. Diakses tanggal 26 December 2011. 
  • Dini, Nh. (1981). Amir Hamzah: Pangeran dari Seberang (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Gaya Favorit Press. OCLC 8777902. 
  • Echols, John (1956). Indonesian Writing in Translation. Ithaca: Cornell University Press. OCLC 4844111. 
  • Hamzah, Amir (1953). Buah Rindu (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Pustaka Rakjat. OCLC 23787339. 
  • Husny, M. Lah (1978). Biografi – Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Department of Education and Culture. OCLC 18582287. 
  • Jassin, H.B. (1962). Amir Hamzah: Radja Penjair Pudjangga Baru (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Gunung Agung. OCLC 7138547. 
  • Johns, Anthony H. (1979). "Amir Hamzah: Malay Prince, Indonesian Poet". Cultural Options and the Role of Tradition: A Collection of Essays on Modern Indonesian and Malaysian Literature. Canberra: Faculty of Asian Studies in association with the Australian National University Press. hlm. 124–140. ISBN 978-0-7081-0341-8. 
  • Mihardja, Achdiat K. (1955). "Amir Hamzah dalam Kenangan". Remembering Amir Hamzah (dalam bahasa Indonesia). Yogyakarta: Djawatan Kebudajaan. hlm. 113–122. OCLC 220483628. 
  • Teeuw, A. (1955). Pokok dan Tokoh (dalam bahasa Indonesia). 1. Jakarta: Pembangunan. OCLC 428077105. 
  • Teeuw, A. (1980). Sastra Baru Indonesia (dalam bahasa Indonesia). 1. Ende: Nusa Indah. OCLC 222168801.